Tempat Wisata Baru D.Dieuland Bandung yang Cocok Untuk Berlibur - Bandungku
Connect with us

BANDUNG GUIDE

Tempat Wisata Baru D.Dieuland Bandung yang Cocok Untuk Berlibur

mm

Published

on

Bandung seperti tidak ada habisnya untuk memberikan tempat wisata baru. Terbukti saat ini ada tempat wisata baru di daerah Punclut yang sangat cocok untuk kalian datangi. D.Dieuland Bandung tempat yang cocok untuk dikunjungi mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

D'dieuland Bandung

Sumber: www.instagram.com/d.dieuland/

D.Dieuland Bandung nmempunyai luas 5.500 meter ini memberikan kenyaman untuk keluarga. Untuk warga Bandung yang mempunyai buah hati tempat ini sangat cocok karena anak-anak akan senang bermain dengan puas di area tersebut. Selain itu orang tua dapat menikmati keindahan pemandangan kota Bandung dari dataran tinggi.

Sumber: www.instagram.com/d.dieuland/

D'Dieuland Bandung

Sumber: www.instagram.com/d.dieuland/

Tempat ini berada di kawasan Punclut baru dibuka tanggal 28 Desember 2017 yang lalu. Meski D’Dieuland belum sepenuhnya rampung namun minat pengunjung yang datang sangat ramai. Ditargetkan Februari 2018 kawasan wisata ini beres di bangun.

Harga Tiket D’Dieuland Bandung

Jika warga Bandung ingin berkunjung kesini jangan khawatir harga yang ditawarkan pun bersahabat. Cukup memnayar tiket sebesar Rp.10.000 pada weekday dan Rp.15.000 di weekend kalian dapat menikmati semua fasilitas yang ada.

D'dieuland Bandung

Sumber: www.instagram.com/d.dieuland/

Untuk anak-anak yang ingin bermain di area indoor hanya perlu membayar Rp.35.000 untuk satu anak dan tidak perlu membayar tiket masuk.

D'dieuland Bandung

Sumber: www.instagram.com/d.dieuland/

Siapkan kamera jika kalian berkunjung kesini karena akan banyak spot yang cocok untuk berfoto dan tentunya sangat bagus untuk update di media sosial. Tempat ini pun di bagi area indoor dan outdoor selain itu ada pula tempat bersantai dan makan.

Baca Juga: Ungkapkan Rasa Cinta di Taman Love Soreang

BANDUNG GUIDE

Sejarah Taman Vanda, Dari Gereja Hingga Bioskop

mm

Published

on

Sejarah Taman Vanda

Taman Vanda merupakan salah satu taman yang sekarang banyak digunakan anak-anak muda Bandung untuk nongkrong. Setelah direvitalisasi pada tahun 2015, taman ini menjadi lebih nyaman, ditambah dengan air mancur warna-warninya yang indah. Namun, tahukah anda bagaimana sejarah Taman Vanda itu sendiri?

Sebelum direvitalisasi, taman ini banyak digunakan oleh para pemain skateboard untuk latihan. Di taman yang berlokasi di Jalan Merdeka, dekat Balai Kota ini juga dulunya tak banyak orang yang mau terlalu lama nongkrong.

Jauh sebelum menjadi taman seluas 2.000 meter persegi itu, ternyata lokasi ini banyak dialih fungsikan. Dari mulai gereja, ruang kuliah, hingga bioskop. Sejarah Taman Vanda dari dulu hingga menjadi taman seperti sekarang ini cukup menarik untuk disimak.

Seperti dilansir dari Pikiran-Rakyat.com, nama Vanda konon diambil dari nama salah satu jenis anggrek. Namun, banyak juga yang menyebut nama itu diambil dari sebuah bioskop yang dulu berdiri di atas lahan tersebut.

Baca Juga: Alun-Alun Cicendo, Sentuhan Besi, dan Representasi Jawa Barat

Berawal dari gereja

Sejarah Taman Vanda berawal ketika di lahan tersebut berdiri sebuah gereja dengan ukuran 8×21 meter. Gereja tersebut diberi nama Gereja Santa Franciscus Regis. Gedung itu menjadi gereja katolik pertama yang didirikan di Kota Bandung.

Gereja Santa Franciscus Regis didirikan oleh Pastor Christianus Schects SJ. Kemudian, gereja ini diberkati oleh Mgr. Staal pada 16 Juni 1895 dan dirobohkan pada awal tahun 1920-an.

Beralih Fungsi

Setelah dirobohkan, di lahan bekas gereja tersebut dibuatlah sebuah bioskop. Bioskop itu dinamakan Rex. Bioskop ini terbilang bertahan cukup lama hingga awal tahun 1950-an. Kemudian bioskop Rex berganti nama menjadi Panti Budaya.

Fungsi gedung pun berubah tidak lagi digunakan sebagai bioskop tetapi digunakan sebagai ruang kuliah Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang pada masa itu masih bernama Perguruan Tinggi Katolik Parahyangan.

Menjadi Taman Vanda

Sekitar tahun 1960-1970-an, gedung itu pun kembali menjadi bioskop. Hal itu dikarenakan Unpar sudah tidak lagi menggunakan gedung Panti Budaya sebagai ruang kuliah. Selain menjadi bioskop, di gedung itu juga terdapat bangsal yang kerap digunakan untuk latihan badminton dan sempat digunakan untuk latihan tari Viatikara.

Pada 1970-an bioskop Panti Budaya pun berganti nama menjadi bioskop Vanda dan bertahan hingga tahun 1980-an. Lalu, pada 1990-an, bangunan bioskop Vanda dirobohkan dan dibuatlah taman yang kini dikenal dengan Taman Vanda.

Baca Juga: Ternyata Ini Sejarah Lapangan Gasibu Bandung

Continue Reading

BANDUNG GUIDE

Alun-Alun Cicendo, Sentuhan Besi, dan Representasi Jawa Barat

mm

Published

on

By

Alun-alun Cicendo

Setelah diresmikan 31 Desember 2017 lalu oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, Alun-alun Cicendo menjadi destinasi wisata baru bagi warga Bandung. Dengan desain arsitektur yang unik dan indah, lokasi ini mampu menggabungkan ruang terbuka, seni, olahraga, dan juga bisnis.

Letak Alun-alun Cicendo berada di lahan hook, tepat di depan bundaran simpang Jalan Aruna-Jatayu-Komodor Udara Supadio. Wilayah ini sudah lama dikenal sebagai daerah perdagangan besi tua dan barang-barang bekas.

Alun-alun Cicendo berada di atas lahan seluas 5.400 meter persegi. Akses masuk utamanya berada di persimpangan ketiga jalan itu, berupa tangga di ruang terbuka dengan material andesit.

Dilansir Pikiran-Rakyat.com, terdapat banyak kegiatan yang bisa dilakukan di alun-alun ini. Anda bisa berolahraga karena terdapat lapangan olahraga seukuran lapangan basket, ramp skateboard atau sekadar berjalan-jalan.

Sementara itu, di bagian kanan terdapat taman yang dilengkapi dua kolam. Pertama, ada kolam dangkal untuk anak maupun merendam kaki. Kedua, ada kolam lebih lebar yang dilengkapi ngarai (canyon). Di bagian pinggir terdapat dinding dengan tinggi 2m dan lebar 1,6m yang juga berfungsi sebagai lorong ngarai yang memanjang hingga 15m.

Di bagian kiri Alun-alun Cicendo ini terdapat 24 unit kios pasar seni (art MARKET) yang disusun mengelilingi selasar beratap sebagai ruang komunitas berkegiatan. Di sisi seberangnya terdapat paviliun bergaya unik.

Semakin ke tengah, terdapat lapangan utama seluas 939m persegi. Di belakangnya ada tribun yang dilengkapi kursi-kursi besi yang disusun memanjang. Selain itu, ada juga mini amfiteater di area utara seluas 132m persegi.

Di ujung kawasan dibangun dek kayu seluas 700 meter persegi. Dengan perbedaan tinggi dua meter di atas miniamfiteater, pengunjung bisa menengok seluruh area alun-alun.

Di beberapa bagian dek, pohon terlihat menyembul dari area koridor bawah yang difungsikan sebagai kios pandai besi. Dek tersebut sekaligus menjadi atap bagi 59 kios di bawahnya, beserta kantor, musala, toilet, serta parkir mobil.

Baca Juga: Tempat Wisata Baru D.Dieuland Bandung yang Cocok Untuk Berlibur

Sentuhan Besi

Alun-alun Cicendo

Foto: Pikran Rakyat.com

Ketika berkunjung ke Alun-alun Cicendo, terlihat banyak elemen besi yang bertebaran di berbagai penjuru. Bahkan, dilansir Pikiran-Rakyat.com, hampir 70% material yang digunakan yaitu besi.

Desain arsitektur alun-alun ini digarap oleh Suryawinata Heinzelmann Architecture and Urbanism (SHAU) Architects. Direktur sekaligus pendiri SHAU, Daliana Suryawinata mengemukakan besi menjadi material utama yang diangkat karena wilayah sekitar banyak perajin besi. Bahkan, pita-pita besi berkarat disusun membentuk topografi.

Di puncak-puncak topografi, terdapat 6 artwork dari 6 seniman muda Bandung. Artwork itu dikurasi oleh Asmudjo Jono Irianto dari Institut Teknologi Bandung. Sebagian besar material yang digunakan pada artwork tersebut juga terbuat dari besi.

Elemen besi juga digunakan untuk kios-kios bagi perajin besi yang direlokasi. ”Alurnya dibuat mudah untuk pemakaian sehari-hari, juga mudah dicapai dari semua arah, tetapi terkumpul dalam klaster-klaster yang tidak mengganggu aktivitas taman,” tutur Dana.

Representasi Jawa Barat

Alun-alun Cicendo

Foto: Pikran Rakyat.com

Alun-alun Cicendo memiliki berbagai fungsi yang diintegrasikan lewat desain arsitektur unik tersebut. SHAU memilih konsep yang berbaur antara satu fungsi dan yang lain untuk membuatnya lebih fleksibel dan terbuka.

”Ketika suatu fungsi terzonasi, setiap ruang hanya dikategorikan berdasarkan fungsi yang berada di area spesifik. Makanya, kami lebih memilih konsep gabungan untuk membuat semua fungsi terdistribusi dengan baik di seluruh area.” ucap founding partner sekaligus Direktur SHAU Architects Florian Heinzelmann, dilansir Pikiran-Rakyat.com, di Kantor SHAU Architects, Jalan Adipati Kertabumi, Bandung.

Konsep itu diimplementasikan pada penggunaan tangga berundak untuk membedakan seluruh area sehingga terjadi perbedaan ketinggian. Tujuannya, agar pengunjung tidak merasa terkotak-kotak pada setiap area sehingga bisa digunakan secara komunal dan beragam.

Tangga-tangga tersebut juga menjelaskan inti desain, menyerupai kontur yang dibuat naik turun. Menurut Florian, inspirasinya datang dari alam Jawa Barat yang memiliki topografi beragam. Mulai dari tinggi, rendah, lebar, sempit, hingga dangkal yang dicitrakan dari gunung, tebing, mata air, lahan kosong, bukit, dataran, lebak, legok, dan sungai.

Baca Juga: Kampung Bamboo Bandung, Tempat Outbound dan Pendidikan Lingkungan di Cimenyan

Continue Reading

BANDUNG GUIDE

Tips Menikmati Bandung di Malam Hari

mm

Published

on

Sebentar lagi kita akan memasuki libur akhir pekan, biasanya banyak orang yang menggunakan waktu akhir pekan untuk jalan-jalan atau bersantai dirumah. Bandung tentunya mempunyai banyak tempat yang dapat menjadi alternative kalian untuk menghabiskan libur akhir pekan ini. Tidak kalah dengan suasana di pagi hari, waktu malam hari Bandung juga memiliki daya tarik loh. Bandungku akan memberikan tips menikmati Bandung di malam hari.

Inilah tips menikmati Bandung di malam hari

1. Kuliner Bandung

Tips menikmati Bandung di malam hari yang pertama yaitu kalian harus mencoba kulinernya. Di Bandung banyak sekali cafe dan resto yang mempunyai makanan enak dan suasana yang nyaman untuk kalian nongkrong.

tips menikmati bandung di malam hari

Pilih cafe yang berada di daerah atas agar kalian dapat menikmati pemandangan kota Bandung. Misalnya di daerah Setiabudhi, Dago Pakar atau Ciumbuleuit. Selain itu kalian dapat mencoba jajanan pinggir jalan yang tidak kalah enak misalnya bola ubi, baso aci ganteng, dll.

2. Menikmati udara dingin Bandung

Kalian bisa menikmati dinginnya Bandung bersama orang terdekat dengan cara datang ke daerah atas seperti Lembang, Ciwidey atau Manglayang. Tempat bisa kalian datangi seperti Sari Ater, dll.

Selain menikmati dinginnya Bandung, di Sari Ater kalian dapat berendam air panas sehingga meski udara dingin namun badan kalian tetap hangat.

3. Berkeliling kota Bandung

Jika kalian berkeliling kota Bandung di siang hari tentunya akan disuguhkan pemandangan kemacetan dan polusi yang dihasilkan dari kendaraan yang dapat membuat kalian bete. Maka cobalah salah satu tips menikmati Bandung di malam hari ini yaitu dengan berkeliling kota di malam hari.

Bangunan sejarah akan terlihat eksotis, lapangan Gasibu, Gedung Sate, Halaman Masjid Agung dan Jalan Braga dapat menjadi pilihan yang tepat apalagi jika kalian jago motret.

Baca Juga: Ingin Menikmati Suasana Eropa di Kota Bandung? Begini Caranya…

0 Pelanggan (0 votes)
Kebersihan0
Kenyamanan0
Interior0
Menu0
Harga0
Apa yang orang katakan... Berikan Penilaianmu
Sort by:

Be the first to leave a review.

User Avatar
Verified
{{{ review.rating_title }}}
{{{review.rating_comment | nl2br}}}

Show more
{{ pageNumber+1 }}
Berikan Penilaianmu

Your browser does not support images upload. Please choose a modern one

Continue Reading

Trending