Rumah Pengabdi Setan: Tujuan Wisata Baru di Bandung - Bandungku
Connect with us

SUDUT LAIN

Rumah Pengabdi Setan: Tujuan Wisata Baru di Bandung

mm

Published

on

rumah pengabdi setan

Pengabdi Setan menjadi film yang sedang hits di bioskop-bioskop Indonesia. Film remake besutan Joko Anwar itu disebut-sebut menjadi film horror terseram yang pernah ada di tanah air. Dalam film tersebut, salah satu yang menjadi ikonik adalah rumah tua yang menjadi lokasi syutingnya.

Penasaran dengan kondisinya? Yuk kita intip bagaimana kengerian rumah Pengabdi Setan itu dalam video yang di-upload channel Official NET News di Youtube berikut!

Baca Juga: Puncak Eurad, Tempat Hits di Atas Langit

SUDUT LAIN

Viral di Medsos, Ini Fakta Menarik Pohon di Tengah Jalan

mm

Published

on

By

Pohon di Tengah Jalan

Beberapa waktu yang lalu, terdapat kejadian unik yang viral di media sosial. Heboh diperbincangkan warganet tentang pohon yang tumbuh di tengah jalan. Pohon di tengah jalan itu dibiarkan berdiri tegak di badan jalan.

Pohon itu berada di badan Jalan Pasirluyu Selatan, Kota Bandung. Sekitar 100 meter ke arah utara dari simpang Jalan Pasirluyu Selatan dan Jalan Soekarno-Hatta.

Nah, terdapat beberapa fakta menarik terkait pohon di tengah jalan tersebut. bandungku telah merangkum fakta-fakta tersebut dari beberapa sumber. Berikut ulasnnya.

1. Luput dari pembangunan Taman Regol

Dilansir dari Pikiran-Rakyat.com, Senin (05/02/2018), pohon tersebut luput dari proyek pembangunan Taman Regol. Pohon tersebut merupakan satu dari sejumlah pohon yang berbaris dengan jarak antara 6-10 meter, di jalan sepanjang 500 meter itu. Terkesan seperti muncul pohon di tengah jalan karena pelapisan aspal di badan jalan tersebut.

Sebelumnya, pohon-pohon tersebut berada di lahan UPT Pembibitan Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung, di Jalan Pasirluyu Selatan. Lahan tersebut beralih fungsi menjadi taman terbuka sepanjang satu kilometer, mulai dari simpang Jalan Soekarno-Hatta.

Kantor UPT Pembibitan tetap dipertahankan. Namun, pohon-pohon yang sebagian besar berumur tua itu ikut dijaga. Sementara lahan yang didominasi tanah menjadi taman beralaskan marmer, beton, dan panel kayu komposit.

Selain terdapat trotoar yang dilengkapi blok pengarah warga difabel, serta jalur landai akses ke dalam taman bagi pengguna kursi roda, sepanjang taman itu juga disediakan jalur khusus sepeda selebar 1.5 meter.

Dengan kondisi itu, masih tersisa sedikitnya dua meter untuk parkir tepi jalan, di sepanjang 500 meter taman seluas 2 hektare itu. Berjarak dua meter dari tepi jalur khusus sepeda, posisi pohon-pohon tua itu seakan menjadi pembatas lokasi parkir tepi jalan.

Baca Juga: Taman Regol : Pusat Rekreasi Bandung Selatan

2. Sudah ditebang

Pohon di Tengah Jalan

Pohon di tengah Jalan Pasirluyu Selatan, Kota Bandung sudah ditebang – Foto: Tribunnews.com

Dilansir Tribunnews.com, Rabu (07/02/2018) siang, pohon di tengah jalan itu sudah tak nampak. Tak terlihat ada batang pohon yang masih tersisa di badan jalan itu. Hanya tampak bagian aspal berbentuk persegi yang warna abu-abunya lebih gelap dari warna aspal di sekitarnya.

Aspal itu, disebut warga warga Jalan Pasirluyu Selatan, RW 8, Kelurahan Pasirluyu, Kecamatan Regol, Sumarna (50) sebagai penampal bekas pohon yang ditebang.

Ia mengatakan, pohon itu ditebang pada Selasa (06/02/2018) sore. Hal senada juga dikatakan oleh warga lainnya, Rumnasi (72). Menurutnya, sisa pohon yang ditebang langsung diaspal pada malam harinya.

Baca Juga: Perbaikan Trotoar di Bandung Molor, Pemkot Siapkan Sanksi Bagi Kontraktor

3. Sempat sulitkan pengendara

Pohon yang tadinya berada di badan Jalan Pasirluyu Selatan, Kota Bandung, sempat menyulitkan pengendara motor dan pengemudi mobil melintas. Akibatnya, banyak yang melaporkan di media sosial adanya pohon yang berdiri di badan jalan itu.

Hal senada juga dikatakan oleh warga Jalan Pasirluyu Selatan, Kelurahan Pasirluyu, Kecamatan Regol, Sumarna (50) dan Rumnasi (72), dilansir Tribunnews.com.

“Kalau warga sekitar sih nggak terganggu, cuman kalau mobil dan motor yang lewat banyak yang kesulitan. Mereka harus berbelok terlebih dahulu,” kata Sumarna.

Namun, lanjut dia, adanya pohon di badan jalan itu tidak sampai menyebabkan kemacetan atau kecelakaan.

Baca Juga: Taman Pustaka Bunga yang Tak “Berbunga”

Continue Reading

SUDUT LAIN

Taman Pustaka Bunga yang Tak “Berbunga”

mm

Published

on

By

Taman Pustaka Bunga

Warga Bandung tentunya sudah tak asing lagi dengan taman yang terletak di dekat Taman Lansia ini. Ya, Taman Kandaga Puspa atau yang biasa dikenal sebagai Taman Pustaka Bunga Kandaga.

Dengan nama Pustaka Bunga, tentunya anda akan menyimpulkan bahwa taman ini memiliki banyak koleksi bunga. Namun ternyata, taman yang terletak diantara Jalan Cilaki dan Jalan Cisangkuy ini tak memiliki banyak bunga di bagian tengahnya.

Hal tersebut didapat berdasarkan hasil pantauan Tribunnews.com, Selasa (23/10/2018), yang dimuat dalam portal beritanya. Beberapa pengunjung Taman Pustaka Bunga pun mengaku bingung mengapa tak terdapat banyak bunga di lokasi tersebut.

“Adanya itu bunga-bunga yang di pot yang berada di atas panggar pembatas di pinggir taman,” kata Ato (64) dilansir Tribunnews.com.

Di lokasi, bunga hanya ditempatkan dalam sejumlah pot yang disimpan di atas pagar pembatas di pinggir taman. Namun beberapa bunga yang disimpan dalam pot itu pun bahkan telah layu dan hilang dari tempatnya.

Seorang petugas parkir di Taman Pustaka Bunga, Rian (21), menyebut pot itu baru berada selama kurang lebih satu bulan. Pot itu disimpan berbarengan dengan selesainya perbaikan trotoar dan pagar pembatas taman.

“Ada satu bulanan lah. Itu kan trotoar sama pagarnya juga sudah diperbaiki,” ujar Rian. Namun, ia pun mengaku tak tahu bagaimana beberapa bunga di pot bisa hilang dari tempatnya.

Baca Juga: Ternyata Ini Sejarah Lapangan Gasibu Bandung

Ingin Taman Pustaka Bunga seperti dulu

Sementara itu, salah satu pengunjung, Djaelani JB berharap fungsi dari Taman Pustaka Bunga ini bisa dikembalikan seperti dulu. “Dulu itu tahun awal 2000-an taman ini ramai, sering dipakai olahraga, sekarang sepi,” ujar Djaelani, dilansir Tribunnews.com.

Ato menyebut, suasana saat tahun 1990-an atau 2000-an pun lebih rindang dari sekarang. “Pohon itu dulu jumlahnya lebih banyak dari sekarang. Sampah juga nggak banyak berserakkan seperti sekarang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga berharap taman ini bebas dari sampah.

“Orang-orang yang datang ke sini mungkin inginnya taman ini bebas dari sampah, terus trek larinya diperlebar. Cukup pakai pavin blok saja. Karena, orang-orang yang sudah berumur seperti kami kan inginnya olahraga di tempat yang sejuk dan rindang,” ujar Ato.

Tampak di lokasi Taman Pustaka Bunga sejumlah sampah berserakkan di beberapa sudut taman. Selain itu di sebuah saluran air yang berada di tengah taman itu pun terdapat sampah. Bahkan saluran air itu mengeluarkan bau tak sedap.

Baca Juga: Sejarah Taman Vanda, Dari Gereja Hingga Bioskop

Continue Reading

BANDUNG GUIDE

Sejarah Taman Vanda, Dari Gereja Hingga Bioskop

mm

Published

on

Sejarah Taman Vanda

Taman Vanda merupakan salah satu taman yang sekarang banyak digunakan anak-anak muda Bandung untuk nongkrong. Setelah direvitalisasi pada tahun 2015, taman ini menjadi lebih nyaman, ditambah dengan air mancur warna-warninya yang indah. Namun, tahukah anda bagaimana sejarah Taman Vanda itu sendiri?

Sebelum direvitalisasi, taman ini banyak digunakan oleh para pemain skateboard untuk latihan. Di taman yang berlokasi di Jalan Merdeka, dekat Balai Kota ini juga dulunya tak banyak orang yang mau terlalu lama nongkrong.

Jauh sebelum menjadi taman seluas 2.000 meter persegi itu, ternyata lokasi ini banyak dialih fungsikan. Dari mulai gereja, ruang kuliah, hingga bioskop. Sejarah Taman Vanda dari dulu hingga menjadi taman seperti sekarang ini cukup menarik untuk disimak.

Seperti dilansir dari Pikiran-Rakyat.com, nama Vanda konon diambil dari nama salah satu jenis anggrek. Namun, banyak juga yang menyebut nama itu diambil dari sebuah bioskop yang dulu berdiri di atas lahan tersebut.

Baca Juga: Alun-Alun Cicendo, Sentuhan Besi, dan Representasi Jawa Barat

Berawal dari gereja

Sejarah Taman Vanda berawal ketika di lahan tersebut berdiri sebuah gereja dengan ukuran 8×21 meter. Gereja tersebut diberi nama Gereja Santa Franciscus Regis. Gedung itu menjadi gereja katolik pertama yang didirikan di Kota Bandung.

Gereja Santa Franciscus Regis didirikan oleh Pastor Christianus Schects SJ. Kemudian, gereja ini diberkati oleh Mgr. Staal pada 16 Juni 1895 dan dirobohkan pada awal tahun 1920-an.

Beralih Fungsi

Setelah dirobohkan, di lahan bekas gereja tersebut dibuatlah sebuah bioskop. Bioskop itu dinamakan Rex. Bioskop ini terbilang bertahan cukup lama hingga awal tahun 1950-an. Kemudian bioskop Rex berganti nama menjadi Panti Budaya.

Fungsi gedung pun berubah tidak lagi digunakan sebagai bioskop tetapi digunakan sebagai ruang kuliah Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang pada masa itu masih bernama Perguruan Tinggi Katolik Parahyangan.

Menjadi Taman Vanda

Sekitar tahun 1960-1970-an, gedung itu pun kembali menjadi bioskop. Hal itu dikarenakan Unpar sudah tidak lagi menggunakan gedung Panti Budaya sebagai ruang kuliah. Selain menjadi bioskop, di gedung itu juga terdapat bangsal yang kerap digunakan untuk latihan badminton dan sempat digunakan untuk latihan tari Viatikara.

Pada 1970-an bioskop Panti Budaya pun berganti nama menjadi bioskop Vanda dan bertahan hingga tahun 1980-an. Lalu, pada 1990-an, bangunan bioskop Vanda dirobohkan dan dibuatlah taman yang kini dikenal dengan Taman Vanda.

Baca Juga: Ternyata Ini Sejarah Lapangan Gasibu Bandung

Continue Reading

Trending